Penghujung 2010...
itu artinya bentar lagi tahun 2011...
110511 itu... *g perlu dibahas deh... haha.. yang jelas itu adalah angka cantik.. :P
Oke, menjelang datangnya tahun 2011.. saya akan berbagi sedikit pengetahuan dengan teman-teman sekalian sesama spesies “homo sapiens” a.k.a “manusia”...
bagi yang merasa sebagai manusia, tak ada salahnya menyimak barang sebentar.. :D
Teman manusiaku,
pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa “tak ada manusia yang terlahir sempurna”?
setujukah Anda dengan ungkapan itu? *simpan jawaban Anda dalam hati..
Pada November 2010 yang lalu, saya mengikuti sebuah training Neuro – Lingustic Programming (NLP) di Jakarta bersama teman-teman sesama praktisi NLP. Training kali ini berbeda dengan training-training yang pernah saya ikuti sebelumnya. Dalam training tersebut saya mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga. Salah satunya adalah tentang SUMBER DAYA MANUSIA.
Pada awal pembahasan mengenai Sumber Daya Manusia, sang trainer yang lebih suka menyebut dirinya sebagai presenter, memberikan sejumlah pertanyaan kepada para peserta.
Pertanyaan pertama, “Apa saja Sumber Daya Alam itu?”
Para peserta pun bersahutan menjawab, “air... tanah... batu... emas... perak... minyak... hewan... tumbuhan... dan masih banyak lagi..”
Pertanyaan kedua, “Apa saja Sumber Daya Hewani itu?
Peserta kembali menyahut dengan jawaban-jawaban, “ daging, telur, susu, kulit, tenaga......dll.”
Pertanyaan ketiga, “ Apa saja Sumber Daya Nabati itu?
Setali tiga uang dengan sebelumnya, jawaban melucur cepat, “daun, bunga, buah, kayu.... bla..bla...bla...bla..”
*dalam hati saya, “Ngapain seh, kaya gini koq ditanyain? kaya anak SD aja... (=_=”) ”
Dan kemudian tibalah pada pertanyaan, “Apa saja Sumber Daya Manusia itu?”
tak seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, kali ini para peserta terdiam untuk berpikir sejenak lalu menjawab, “tenaga, otak,........<hening>..........”
*saya sempat kepikiran “tampang cakep”, “bodi asoy”... hehehe.. benar-benar sesat... mohon jangan ditiru
Sang presenter kemudian mengacungkan sebuah spidol warna biru dengan tangan kanannya dan bertanya,
“Anda tahu apa ini?”
Para peserta mengangguk dan menjawab, “spidol”
*dalam hati saya lagi, “pertanyaan macam apa lagi nih?”
Sang presenter kemudian memindahkan spidol ke tangan kirinya, menyembunyikan di balik punggung dan kembali mengacungkan tangan kanannya seolah-olah masih memegang spidol seraya berkata,
“Dapatkah Anda membayangkan spidol biru tadi?”
Peserta mengangguk...
“Sekarang, dapatkah Anda mengubah warnanya menjadi merah?”
Peserta mengangguk lagi....
“Oke, sekarang dapatkah Anda membayangkan spidol ini menjadi 10 X lebih besar?”
lagi-lagi peserta mengangguk...
“Sekarang dapatkah Anda membayangkan bentuk spidol yang belum pernah ada di pasaran... terserah Anda ingin mengubahnya menjadi bentuk apapun yang Anda inginkan... bagaimana?”
bola mata peserta bergerak-gerak ke atas.. ke kiri.. lalu ke kanan... dan kemudian peserta memberikan anggukan kepala...
*waktu itu saya membayangkan spidol dengan bentuk ular, meliuk-liuk indah, berdarah-darah dan mungkin menjijikkan bagi sebagian orang.. hehehe...
“Andai saja ada Investor kaya raya mau membayar Anda untuk membuat spidol hasil imajinasi Anda tadi, maukah Anda mewujudkannya?”
Semua peserta terdiam... begitu pula saya...
Seketika itu saya menyadari akan sesuatu yang selama ini tak pernah saya hiraukan...
Sang presenter menuliskan serangkaian huruf pada flip chart, “ Visual Auditori Kinestetik Olfactory Gustatory”, dan kembali melanjutkan presentasinya.
“Anda tentu tahu apa itu VAKOG. Sudahkah Anda menggunakan kemampuan panca indera Anda secara optimal? Berapa persen yang sudah Anda gunakan?
Sebagian menjawab 10%...
*saya bekata dalam hati lagi, “keliatannya gue ga nyampe 10% deh.. itupun kebanyakan kepake buat kerjaan yang ga jelas... “ hedeeeeh...entah mengapa saya mulai sakit hati dengan diri sendiri...
Baiklah teman manusiaku sekalian, kira kira apa jadinya ya jika seseorang mengoptimalkan kemampuan panca inderanya?
Mari kita lihat contoh di kehidupan sehari-hari...
VISUAL – Coba perhatikan para fotografer dan desainer terkenal. Dengan mengandalkan kemampuan visual (indera penglihatan) mereka mampu menciptakan karya-karya yang bernilai tinggi. Seberapa jauh Anda telah menggali kemampuan visual Anda?
AUDITORI – Seorang musisi seperti Ahmad Dhani misalnya, mampu menjadi milyarder lewat lagu-lagu ciptaannya hanya dengan mengoptimalkan kemampuan auditori (indera pendengaran). Bagaimana dengan Anda?
KINESTETIK – Seorang Lionel Messi dengan kemampuan kinestetiknya yang diasah sedemikian rupa, mampu menjadikannya seorang pemain sepak bola profesional dengan bayaran yang sangat tinggi. Atau seorang Valentino Rossi yang mampu menjadi juara dunia Moto GP delapan kali. Lihatlah betapa hebatnya mereka! Tidakkah Anda ingin seperti mereka?
OLFACTORY – Apa kira-kira yang dapat dimanfaatkan dari menggali olfactory (indera penciuman) kita? Tahukah Anda berapa bayaran yang didapat oleh seorang “grader” yang menilai kualitas tembakau dengan indera penciumannya? Seorang Haryo Dewandono yang menjadi grader Bentoel mampu memperoleh 1,5 miliar dari sekali pembelian tembakau senilai 30 miliar dengan mengandalkan kemampuannya itu.
GUSTATORY – Anda kenal Pak Bondan “Mak Nyusss”? Hmmm betapa senangnya kalau jadi Pak Bondan. Jalan-jalan , sambil menikmati kuliner, dan dibayarin pula... hehehe... Itu salah satu contoh pemberdayaan kemampuan gustatory (indera pengecapan).
Mengoptimalkan kemampuan salah satu indera saja sudah sedemikian hebatnya... apalagi kalau kelima-limanya dioptimalkan...???
So, teman-teman manusiaku...
hendaknya kita bersyukur pada Tuhan atas VAKOG yang Ia anugerahkan kepada kita secara GRATIS dan siap pakai...
Coba bayangkan seandainya manusia tak dianugerahi VAKOG, manusia hanyalah sebuah onggokan daging dan tulang...
“nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?”
Untuk hal yang satu ini, saya tidak bermaksud mengajari...
Sang presenter yang sekaigus saya anggap sebagai trainer saya berkata,
“jangan mengajari ikan untuk berenang”
“jangan mengajari burung untuk terbang”
Mengapa demikian? Ya karena ketika ikan muncul ke dunia ini memang sudah dianugerahi kemampuan berenang, begitu pula burung yang ketika lahir ke dunia, ia telah dianugerahi kemampuan untuk terbang dan pada waktunya ia akan mampu terbang tanpa perlu diajari.
Lalu, bagaimana dengan manusia?
Sama saja alias setali tiga uang...
Manusia tak perlu diajari untuk sukses karena sumber daya untuk sukses sudah ada dalam diri manusia.
Jadi, seharusnya tak ada lagi alasan untuk tetap merasa dalam ketidakberdayaan... dan jangan salahkan Tuhan kalau tak mampu mencapai sesuatu yang diinginkan...
Manfaatkanlah apa yang ada pada diri Anda.
Sadarilah bahwa Anda begitu istimewa karena Dia menciptakan Anda dengan begitu sempurna.
Teman manusiaku sekalian,
semoga sedikit yang saya sharing-kan ini dapat bermanfaat...
mari kita bersama berusaha menjadi apa adanya diri kita – “ciptaan Tuhan yang paling sempurna”...
Salam Perubahan (^_^)

0 komentar:
Posting Komentar