Kamis, 16 Februari 2012

KEBENARAN YANG DIBENAR-BENAR-KAN

Pada suatu ketika sewaktu audit atas laporan keuangan tengah berlangsung, terjadilah sebuah dialog singkat antara seorang auditor dan auditee (subjek yang diaudit). Begini ilustrasinya:

 
Hehehe... mungkin setelah mendengar ilustrasi di atas, bagi yang familiar dengan istilah dalam dunia per-auditing-an akan sedikit/lumayan/banyak/sekedar pura2 nyengir. Bagi yang ngga/belum familiar dengan auditing, dengarkan saja gambar dan tulisannya yah... :) . Konyol memang kalau dirasa-rasa, masa’ ya iya ada auditee ngomong begitu ke auditor...but, percaya ngga percaya, ilustrasi di atas based on the true story.
Walaupun ilustrasinya bercerita tentang kejadian saat audit, namun kali ini saya ngga akan membahas tentang auditing.

“Mmmmhh... so, kalau sekarang lagi ngga ngomongin auditing, trus ngomongin apa dong??”

Dear all, ilustrasi dan tulisan saya kali ini asal muasalnya karena teringat oleh jawaban sang auditee waktu itu. Pada saat pertama saya mendengar kalimat itu dari auditee, saya tak pikir serius dan menganggapnya sebagai bahan candaan belaka. Eh tenyata sodara-sodara sekalian, baru-baru ini saya menyadari bahwa kalimat itu adalah kalimat sakti. Coba perhatikan, dengarkan secara perlahan dan seksama kalimat sang auditee yang satu ini --> “YA, MAKLUMLAH BU, MANUSIA TEMPAT SALAH DAN LUPA, KESEMPURNAAN HANYA MILIK ALLAH SEMATA”.

Yak, sudah tau di mana letak kesaktian kalimat tersebut?
Ngga ada yang salah dengan kalimat itu, ya karena memang kalimat itu adalah sebuah KEBENARAN. “Manusia adalah tempat salah dan lupa”... saya rasa semua manusia di dunia ini setuju bahwa ngga ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang ngga pernah berbuat kesalahan dan ngga pernah lupa. Kemudian “Kesempurnaan hanya milik Allah semata” ... saya rasa mayoritas manusia juga setuju.
Mmmmh... kalo ada yg ngga setuju, pura2 setuju dulu aja ya... hehehe..

Lagi-lagi... letak kesaktiannya itu di mana?

Di manaaa... dimanaaa... di manaaaaa...*nyanyik
Gini... gini...
Kalimat itu akan menjadi sakti omasguna kalau dipakai untuk memBENARkan KEBENARAN lain yang ingin DIHINDARI, yang akhirnya jadilah sebuah PEMBENARAN. Contohnya gini:
Atasan saya memberikan tugas kepada saya. Saya mengerjakan tugas itu ala kadarnya, yang penting asal jadi, asal selesai. Setelah tugas itu disampaikan ke atasan saya lagi  ternyata banyak salah di sana sini. Atasan saya marah marah ke saya. Saya membela diri biar ngga terlalu malu (padahal udah malu-maluin banget) dengan berkata, “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan hanya milik Allah semata”.
Dari contoh yang barusan, KEBENARANnya adalah “Saya malas, ngga serius, asal-asalan dan ngga mau kelamaan capek” kemudian diBENARkan dengan pernyataan “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan hanya milik Allah semata.” kemudian jadilah sebuah PEMBENARAN --> “yah, wajar lah khilaf-khilaf dikit, namanya juga manusia, bukan Tuhan” --> perasaan saya menjadi rada mendingan walaupun masih tersisa galau, galau yg kadang ilang kadang muncul lagi di lain waktu.

Itu salah satu contohnya yang terjadi pada saya... Saya merasa yakin agan dan aganwati sekalian punya contoh ataupun pengalaman yang lebih kreatif lagi... hehehe...

By the way, seberapa sering PEMBENARAN-PEMBENARAN yang bro&sist sekalian buat dalam kehidupan dan tidak pernah diSADARi?

PEMBENARAN itu... membuat orang yang melakukannya menjadi merasa “nyaman” walaupun itu “semu” dan “sementara”. Penyakitnya sendiri (baca: kebenaran yang dihindari) sama sekali ngga pernah sembuh. Kalau suatu saat muncul lagi rasa sakitnya, maka dibuatlah pembenaran yang lainnya. Begitu seterusnya hingga suatu ketika jiwa orang yang melakukannya akan menjadi kering dan mati, ngga tau lagi mana yang benar mana yang salah. Kalo kata pepatah --> punya mata tapi ngga melihat, punya telinga tapi ngga denger. Ya...  gitu deeeh...
Nah, begitulah pemirsa sekalian kesaktian dari sebuah PEMBENARAN menurut sepengetahuan saya yang sok tau ini (ini pembenaran juga :p)... hehehe...

“Apa yang membuatmu melakukan PEMBENARAN?”

Menurut pengalaman yang sudah-sudah dan yang masih berlangsung hingga detik ini... biasanya PEMBENARAN itu dilakukan karena si pelaku: ngga mau TANGGUNG JAWAB, ngga mau susah, pengen enaknya aja atau ngga mau ngakuin kenyataan bahwa dirinya itu salah.


“Gimana dong biar ngga terus-terusan idup dalam PEMBENARAN?”

Mmmmh... yakin neh, mau melepaskan diri dari PEMBENARAN? ngga enak & menyakitkan banget lho prosesnya itu... sumpah ASLI menderita banget... Mending jangan deh...

Tapi terserah siih, kalau cuman ngasih tau aja saya  mah oke oke aja...
Coba deh, mulai belajar membedakan mana PIKIRAN mana PERASAAN, mulai sadari KATA-KATA yang melintas dalam PIKIRAN dan PERASAAN, lihat diri APA ADANYA, terima diri APA ADANYA, dan ambil TANGGUNG JAWAB --> ini saya nasehatin diri sendiri lho yaaa... kalo sampeyan pengen ikutan nyobain ya monggo monggo aja... sekali lagi mendingan jangan...
hehehe...

hhh... capek nih...
Sekian aja dulu deh...
Jikalau ada yang perlu didiskusikan lebih lanjut silakan berkunjung ke fanpage ASLI (Aliansi Sadar Linguistik Indonesia) --> ASLI fanpage

Mohon maaf bila ada kesalahan redaksi atau apapun itu karena “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan hanya milik Allah semata”

Salam Galau ^_^
 
SUTE Blogger Template by Ipietoon Blogger Template