Hehehe... mungkin setelah
mendengar ilustrasi di atas, bagi yang familiar dengan istilah dalam dunia
per-auditing-an akan sedikit/lumayan/banyak/sekedar pura2 nyengir. Bagi yang
ngga/belum familiar dengan auditing, dengarkan saja gambar dan tulisannya
yah... :) . Konyol
memang kalau dirasa-rasa, masa’ ya iya ada auditee ngomong begitu ke
auditor...but, percaya ngga percaya, ilustrasi di atas based on the true story.
Walaupun ilustrasinya bercerita tentang kejadian saat audit,
namun kali ini saya ngga akan membahas tentang auditing.
“Mmmmhh... so, kalau sekarang
lagi ngga ngomongin auditing, trus ngomongin apa dong??”
Dear all, ilustrasi dan tulisan
saya kali ini asal muasalnya karena teringat oleh jawaban sang auditee waktu
itu. Pada saat pertama saya mendengar kalimat itu dari auditee, saya tak pikir
serius dan menganggapnya sebagai bahan candaan belaka. Eh tenyata sodara-sodara
sekalian, baru-baru ini saya menyadari bahwa kalimat itu adalah kalimat sakti.
Coba perhatikan, dengarkan secara perlahan dan seksama kalimat sang auditee
yang satu ini -->
“YA, MAKLUMLAH BU, MANUSIA TEMPAT SALAH DAN LUPA, KESEMPURNAAN HANYA MILIK
ALLAH SEMATA”.
Yak, sudah tau di mana letak
kesaktian kalimat tersebut?
Ngga ada yang salah dengan
kalimat itu, ya karena memang kalimat itu adalah sebuah KEBENARAN. “Manusia
adalah tempat salah dan lupa”... saya rasa semua manusia di dunia ini setuju
bahwa ngga ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang ngga pernah berbuat
kesalahan dan ngga pernah lupa. Kemudian “Kesempurnaan hanya milik Allah semata”
... saya rasa mayoritas manusia juga setuju.
Mmmmh... kalo ada yg ngga setuju, pura2 setuju dulu aja ya... hehehe..
Mmmmh... kalo ada yg ngga setuju, pura2 setuju dulu aja ya... hehehe..
Lagi-lagi... letak kesaktiannya itu di mana?
Di manaaa... dimanaaa... di
manaaaaa...*nyanyik
Gini... gini...
Kalimat itu akan menjadi sakti
omasguna kalau dipakai untuk memBENARkan KEBENARAN lain yang ingin DIHINDARI,
yang akhirnya jadilah sebuah PEMBENARAN. Contohnya gini:
Atasan saya memberikan tugas kepada saya.
Saya mengerjakan tugas itu ala kadarnya, yang penting asal jadi, asal selesai.
Setelah tugas itu disampaikan ke atasan saya lagi ternyata banyak salah di sana sini. Atasan
saya marah marah ke saya. Saya membela diri biar ngga terlalu malu (padahal
udah malu-maluin banget) dengan berkata, “Manusia tempat salah dan lupa,
Kesempurnaan hanya milik Allah semata”.
Dari contoh yang barusan,
KEBENARANnya adalah “Saya malas, ngga serius, asal-asalan dan ngga mau kelamaan
capek” kemudian diBENARkan dengan pernyataan “Manusia tempat salah dan lupa,
Kesempurnaan hanya milik Allah semata.” kemudian jadilah sebuah PEMBENARAN --> “yah, wajar lah
khilaf-khilaf dikit, namanya juga manusia, bukan Tuhan” --> perasaan saya menjadi rada
mendingan walaupun masih tersisa galau, galau yg kadang ilang kadang muncul
lagi di lain waktu.
Itu salah satu contohnya yang terjadi pada saya... Saya merasa yakin
agan dan aganwati sekalian punya contoh ataupun pengalaman yang lebih kreatif
lagi... hehehe...
By the way, seberapa sering PEMBENARAN-PEMBENARAN yang bro&sist
sekalian buat dalam kehidupan dan tidak pernah diSADARi?
PEMBENARAN itu... membuat orang
yang melakukannya menjadi merasa “nyaman” walaupun itu “semu” dan “sementara”.
Penyakitnya sendiri (baca: kebenaran yang dihindari) sama sekali ngga pernah
sembuh. Kalau suatu saat muncul lagi rasa sakitnya, maka dibuatlah pembenaran
yang lainnya. Begitu seterusnya hingga suatu ketika jiwa orang yang melakukannya
akan menjadi kering dan mati, ngga tau lagi mana yang benar mana yang salah.
Kalo kata pepatah -->
punya mata tapi ngga melihat, punya telinga tapi ngga denger. Ya... gitu deeeh...
Nah, begitulah pemirsa sekalian kesaktian
dari sebuah PEMBENARAN menurut sepengetahuan saya yang sok tau ini (ini
pembenaran juga :p)... hehehe...
“Apa yang membuatmu melakukan PEMBENARAN?”
Menurut pengalaman yang sudah-sudah
dan yang masih berlangsung hingga detik ini... biasanya PEMBENARAN itu
dilakukan karena si pelaku: ngga mau TANGGUNG JAWAB, ngga mau susah, pengen
enaknya aja atau ngga mau ngakuin kenyataan bahwa dirinya itu salah.
“Gimana dong biar ngga terus-terusan idup dalam PEMBENARAN?”
Mmmmh... yakin neh, mau
melepaskan diri dari PEMBENARAN? ngga enak & menyakitkan banget lho
prosesnya itu... sumpah ASLI menderita banget... Mending jangan deh...
Tapi terserah siih, kalau cuman
ngasih tau aja saya mah oke oke aja...
Coba deh, mulai belajar
membedakan mana PIKIRAN mana PERASAAN, mulai sadari KATA-KATA yang melintas
dalam PIKIRAN dan PERASAAN, lihat diri APA ADANYA, terima diri APA ADANYA, dan
ambil TANGGUNG JAWAB -->
ini saya nasehatin diri sendiri lho yaaa... kalo sampeyan pengen ikutan nyobain
ya monggo monggo aja... sekali lagi mendingan jangan...
hehehe...
hhh... capek nih...
hhh... capek nih...
Sekian aja dulu deh...
Jikalau ada yang perlu
didiskusikan lebih lanjut silakan berkunjung ke fanpage ASLI (Aliansi Sadar
Linguistik Indonesia) -->
ASLI
fanpage
Mohon maaf bila ada kesalahan
redaksi atau apapun itu karena “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan
hanya milik Allah semata”

