SOEMPAH PEMOEDA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE
BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE
BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA
PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Pernah mendengar
kutipan di atas? Bagi yang pernah mengaku warga negara Indonesia, apalagi yang lahir
dan dibesarkan di Indonesia sekaligus pernah mengenyam pendidikan sekolah
konvensional, seharusnya pernah mendengarnya, walaupun sudah lupa-lupa-ingat. Biasanya,
kutipan isi Sumpah Pemuda sering dijadikan sebagai soal ujian mata pelajaran
Sejarah atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan dibacakan ketika
upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Nah, bagi yang pernah mendengar dan
mengucapkan kutipan isi Sumpah Pemuda di atas, sudahkah Anda membuktikannya
dalam perbuatan yang nyata? Semoga saja sudah. Ah, tapi kalau melihat situasi
dan kondisi bangsa sekarang ini, sepertinya belum mencerminkan perwujudan isi
Sumpah Pemuda.
Oh, tentu. Itu bukan
sesuatu hal yang mudah untuk dibuktikan, bukan begitu?. Walaupun tidak mudah,
sesuai anjuran beberapa orang yang mengaku sebagai motivator, kita harus selalu
berpikir positif. “Jika saya berpikir bisa, maka saya bisa”, begitulah
anjurannya.
Oke, apapun itu,
intinya jangan pernah berputus asa dan teruslah berusaha – *berpikir positif.
:D
“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang
takkan mengenal bangsanya sendiri”
– Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya Ananta
Toer, putra Indonesia yang merupakan pengarang yang produktif dalam sejarah
sastra Indonesia dan telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan
ke dalam lebih dari 41 bahasa asing, pernah mengatakan bahwa tanpa mempelajari
bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri. Mendengar perkataan
Pramoedya tersebut, muncullah pendapat dalam benak saya. Begini, jika saya
mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan mampu berbahasa Indonesia dengan
baik, maka saya akan mengenal bangsa Indonesia dan dapat melaksanakan kehidupan
berbangsa Indonesia dengan baik, sehingga di akhir hayat nanti terwujudlah apa
yang dimaksud bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
Lalu, bagaimana
caranya? Saya tidak tahu dan saya saat ini belum mau tahu, Saudara sekalian :p.
Mungkin Anda yang sedang membaca ini, lebih tahu dan bahkan sudah mempraktikkan...
hehehe... :D
#Okesip. Mari
lanjutkan.
Ngomong-ngomong
tentang bahasa, apa sih arti kata bahasa itu sendiri? Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bahasa yaitu sebagai berikut.
bahasa: (1) sistem lambang bunyi yg
arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,
berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; (2) percakapan (perkataan) yg baik;
tingkah laku yang baik; sopan santun: baik budi - nya
Berdasarkan arti kata
bahasa menurut KBBI di atas, ternyata bahasa tak hanya mencakup perkataan saja
namun mencakup tingkah laku juga, dan dalam hal ini saya tertarik akan satu
hal, yaitu adanya unsur sopan santun dalam bahasa.
Sopan santun dalam
bahasa itu berarti sopan santun dalam perkataan maupun tingkah laku. Sopan
santun merupakan frase yang terdiri atas kata sopan dan santun. Kemudian saya
pun iseng mencari artinya dalam KBBI – online. Berikut ini hasil pencarian saya
di KBBI – online. *Jikalau ada salah mengutip, mohon dibantu untuk meralat :D
*mohon dibantu
yaaa... sim salabim jadi apa... prok prok prok*
Kalau dicari arti frase sopan santun, begini hasilnya:
sopan santun: [n]
budi pekerti yg baik; tata krama; peradaban; kesusilaan
Nah selanjutnya, dicari arti dari budi
pekerti, tata krama, peradaban, dan kesusilaan. Dan inilah hasilnya:
budi pekerti: tingkah
laku; perangai; akhlak
tata krama: adat sopan
santun; basa basi
peradaban: [n] (1)
kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak
sama tingkat ~ nya; (2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan
kebudayaan suatu bangsa
kesusilaan: [n] (1)
perihal susila; yang berkaitan dengan adab dan sopan santun; (2) norma yang
baik; kelakuan yang baik; tata krama yang luhur.
Wah,
ternyata arti/definisi menurut kamusnya malah “muter-muter” alias “mbulet”
bikin puyeng... hahaha...
ehmmm...
oke, bagaimana kalai dicari arti kata sopan dan santun secara tersendiri/per
kata. Mari dicoba, dan beginilah jadinya:
Sopan :
1 hormat dan takzim (akan,
kpd); tertib menurut adat yg baik: dengan -- ia mempersilakan tamunya duduk;
kpd orang tua kita wajib berlaku --; 2 beradab (tt tingkah laku, tutur kata, pakaian dsb); tahu adat;
baik budi bahasanya: ia berlaku amat -- kepada kedua orang tuanya; 3 baik kelakuannya (tidak lacur, tidak
cabul): sekarang ini kita sukar untuk membedakan perempuan yang -- dan yang
lacur;
Santun: (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya);
sabar dan tenang; sopan; (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong
Hedeeeuh... ternyata setali tiga uang... saya juga bingung... santun adalah
sopan... sopan santun adalah tata krama ... tata krama adalah sopan santun...
huhuhuhuhu... Saya jadi penasaran bagaimana bahasa itu tercipta dan bagaimana
kamus itu diciptakan XD
Biarlah bingung tetap berarti bingung... hehehe...
Hmmmm... itu baru membahas arti kata
saja lho.. belum sampai ke makna kata.
Nah, pertanyaan selanjutnya...
apakah arti dan makna itu berbeda? Jawabnya adalah ya. Lalu apa beda arti
dengan makna? Jawabnya adalah beda tulisannya/hurufnya... hahahahaha... XD
Menurut pendapat saya, arti itu
merupakan definisi menurut kamus, sedangkan makna itu merupakan pengertian
ataupun manfaat yang dapat diperoleh dari kata-kata/kalimat.
Kembali lagi pada pembahasan sopan
dan santun. Apa makna sopan dan santun? – Setiap orang boleh dan dapat berbeda
dalam memaknainya. Berikut ini contoh gambaran tentang memaknai sopan dan
santun.
I. Dikisahkan, dua orang pegawai, sebut
saja si A dan si B, yang bekerja di sebuah instansi, sebut saja Departemen XYZ.
Si A dikenal sebagai pegawai yang tidak pernah terlambat masuk kantor, tidak
pernah membolos, ijin pun sangat jarang. Si A ini selalu bersikap manis
terhadap atasan dan setiap kali mendapat tugas dari atasannya, si A ini selalu
bilang, “Siap laksanakan, Pak/Bu!”. Akan tetapi, tugas-tugas yang diberikan
atasannya itu sering terlambat diselesaikan, bahkan sesekali malah tidak
selesai sama sekali dan akhirnya harus dilimpahkan ke pegawai lain. Sedangkan
si B, pegawai yang satunya lagi, setiap bulan selalu punya catatan tidak masuk
kantor, entah itu dengan disertai surat ijin maupun tanpa keterangan sama
sekali alias membolos. Atasan si B menganggap si B sebagai pegawai yang kurang
tata krama karena atasan si B ini merasa sikap si B sama, baik dengan atasan
maupun yang bukan atasannya (intinya atasan si B ini merasa si B ini tidak
punya rasa hormat dengan atasan). Namun demikian, si B ini selalu menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan atasannya dengan hasil yang memuaskan dan tepat
waktu, bahkan sesekali lebih cepat dari yang ditentukan. Oleh karena itu,
atasannya tidak mempertimbangkan untuk memecat si B walaupun si B sering tidak
masuk kerja dan dianggap tidak tahu tata krama. *tamat*
II. Di suatu pagi yang cerah ceria,
Master Shifu bercerita tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia kepada
dua muridnya, si Tong dan si Pang. Entah karena salah ucap, sudah pikun atau
memang gagal paham, pada tengah cerita, Master Shifu berkata bahwa lagu
kebangsaan Indonesia diciptakan oleh WS Rendra. Nah, kebetulan kedua muridnya
itu tahu bahwa pencipta lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman. Si Tong,
walaupun tahu kalau gurunya salah ngomong, dia tidak berani membetulkan, dan
dia pun cuma senyam-senyum sambil manggut-manggut ngga ikhlas. Sedangkan si Pang
langsung bereaksi spontan untuk membetulkan perkataan gurunya dengan berkata
kepada gurunya, “pengarang lagu kebangsaan Indonesia itu bukan WS Rendra, tapi
WR Supratman, guru... masa gitu aja salah sih... nenek-nenek sampoan juga tau
kaleee...guoblok!”. *tidak bersambung* (singkat cerita, si Pang masih menjadi
murid Master Shifu dalam dunia nyata, namun dalam dunia maya, si Pang sudah
di-remove oleh Master Shifu dari pertemanan fesbuk).
Dua cerita super pendek di atas
hanyalah contoh semata, jika ada kemiripan tokoh maupun jalan cerita, itu
hanyalah kebenaran belaka... hehehe...
Si A (cerita I) dan si Tong (cerita
II) merupakan contoh gambaran perilaku yang SOPAN tetapi TIDAK SANTUN.
Sedangkan si B (cerita I) dan si Pang (cerita II) merupakan kebalikannya yaitu
contoh perilaku yang SANTUN tetapi TIDAK SOPAN.
Nah, termasuk tipe yang manakah
Anda? Apakah tipe yang sopan namun tidak santun, atau tipe yang santun namun
tidak sopan? mmmh... atau malah tipe yang tidak sopan dan tidak santun?
hehehe... hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Semoga Anda sekalian termasuk tipe
orang yang sopan dan santun.
Ruwet ya, padahal hanya membahas 3
kata saja: bahasa, sopan, dan santun. Apalagi mau belajar berbahasa Indonesia
yang baik dan benar? ngga kebayang repotnya. Belajar aja capek, apalagi mau
menjunjung tinggi bahasa Indonesia? apalagi berbangsa dan bertumpah darah
Indonesia?? jauuuuuuuuh deh ya ... di awang-awang gitu...
Bagi yang udah mengucap Sumpah
Pemuda, ingat lho, sumpah itu janji, dan kata pepatah kuno “janji adalah
hutang”. Cepet-cepet dilunasin deh yaaa... cemungudh eaa cemuwanyaaa :D
*****
Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
Apa yang Anda dapatkan dari artikel ini?
Rahayu Fitri Purnama Sari
@LadySute
suheng.tumblr.com

