Selasa, 16 Oktober 2012

SOPAN? SANTUN?



SOEMPAH PEMOEDA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928


Pernah mendengar kutipan di atas? Bagi yang pernah mengaku warga negara Indonesia, apalagi yang lahir dan dibesarkan di Indonesia sekaligus pernah mengenyam pendidikan sekolah konvensional, seharusnya pernah mendengarnya, walaupun sudah lupa-lupa-ingat. Biasanya, kutipan isi Sumpah Pemuda sering dijadikan sebagai soal ujian mata pelajaran Sejarah atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan dibacakan ketika upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda. Nah, bagi yang pernah mendengar dan mengucapkan kutipan isi Sumpah Pemuda di atas, sudahkah Anda membuktikannya dalam perbuatan yang nyata? Semoga saja sudah. Ah, tapi kalau melihat situasi dan kondisi bangsa sekarang ini, sepertinya belum mencerminkan perwujudan isi Sumpah Pemuda.
Oh, tentu. Itu bukan sesuatu hal yang mudah untuk dibuktikan, bukan begitu?. Walaupun tidak mudah, sesuai anjuran beberapa orang yang mengaku sebagai motivator, kita harus selalu berpikir positif. “Jika saya berpikir bisa, maka saya bisa”, begitulah anjurannya.
Oke, apapun itu, intinya jangan pernah berputus asa dan teruslah berusaha – *berpikir positif. :D


“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri”
 Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer, putra Indonesia yang merupakan pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia dan telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing, pernah mengatakan bahwa tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri. Mendengar perkataan Pramoedya tersebut, muncullah pendapat dalam benak saya. Begini, jika saya mempelajari bahasa Indonesia dengan baik dan mampu berbahasa Indonesia dengan baik, maka saya akan mengenal bangsa Indonesia dan dapat melaksanakan kehidupan berbangsa Indonesia dengan baik, sehingga di akhir hayat nanti terwujudlah apa yang dimaksud bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.

Lalu, bagaimana caranya? Saya tidak tahu dan saya saat ini belum mau tahu, Saudara sekalian :p. Mungkin Anda yang sedang membaca ini, lebih tahu dan bahkan sudah mempraktikkan... hehehe...  :D

#Okesip. Mari lanjutkan.

Ngomong-ngomong tentang bahasa, apa sih arti kata bahasa itu sendiri? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata bahasa yaitu sebagai berikut.

bahasa: (1) sistem lambang bunyi yg arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri; (2) percakapan (perkataan) yg baik; tingkah laku yang baik; sopan santun: baik budi - nya

Berdasarkan arti kata bahasa menurut KBBI di atas, ternyata bahasa tak hanya mencakup perkataan saja namun mencakup tingkah laku juga, dan dalam hal ini saya tertarik akan satu hal, yaitu adanya unsur sopan santun dalam bahasa.

Sopan santun dalam bahasa itu berarti sopan santun dalam perkataan maupun tingkah laku. Sopan santun merupakan frase yang terdiri atas kata sopan dan santun. Kemudian saya pun iseng mencari artinya dalam KBBI – online. Berikut ini hasil pencarian saya di KBBI – online. *Jikalau ada salah mengutip, mohon dibantu untuk meralat :D
*mohon dibantu yaaa... sim salabim jadi apa... prok prok prok*

Kalau dicari arti frase sopan santun, begini hasilnya:
sopan santun: [n] budi pekerti yg baik; tata krama; peradaban; kesusilaan

Nah selanjutnya, dicari arti dari budi pekerti, tata krama, peradaban, dan kesusilaan. Dan inilah hasilnya:

budi pekerti: tingkah laku; perangai; akhlak

tata krama: adat sopan santun; basa basi

peradaban: [n] (1) kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin: bangsa-bangsa di dunia ini tidak sama tingkat ~ nya; (2) hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa

kesusilaan: [n] (1) perihal susila; yang berkaitan dengan adab dan sopan santun; (2) norma yang baik; kelakuan yang baik; tata krama yang luhur.

Wah, ternyata arti/definisi menurut kamusnya malah “muter-muter” alias “mbulet” bikin puyeng... hahaha...
ehmmm... oke, bagaimana kalai dicari arti kata sopan dan santun secara tersendiri/per kata. Mari dicoba, dan beginilah jadinya:

Sopan : 1 hormat dan takzim (akan, kpd); tertib menurut adat yg baik: dengan -- ia mempersilakan tamunya duduk; kpd orang tua kita wajib berlaku --; 2 beradab (tt tingkah laku, tutur kata, pakaian dsb); tahu adat; baik budi bahasanya: ia berlaku amat -- kepada kedua orang tuanya; 3 baik kelakuannya (tidak lacur, tidak cabul): sekarang ini kita sukar untuk membedakan perempuan yang -- dan yang lacur;

Santun: (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong

Hedeeeuh... ternyata setali tiga uang... saya juga bingung... santun adalah sopan... sopan santun adalah tata krama ... tata krama adalah sopan santun... huhuhuhuhu... Saya jadi penasaran bagaimana bahasa itu tercipta dan bagaimana kamus itu diciptakan XD
Biarlah bingung tetap berarti bingung... hehehe...

Hmmmm... itu baru membahas arti kata saja lho.. belum sampai ke makna kata.
Nah, pertanyaan selanjutnya... apakah arti dan makna itu berbeda? Jawabnya adalah ya. Lalu apa beda arti dengan makna? Jawabnya adalah beda tulisannya/hurufnya... hahahahaha... XD
Menurut pendapat saya, arti itu merupakan definisi menurut kamus, sedangkan makna itu merupakan pengertian ataupun manfaat yang dapat diperoleh dari kata-kata/kalimat.

Kembali lagi pada pembahasan sopan dan santun. Apa makna sopan dan santun? – Setiap orang boleh dan dapat berbeda dalam memaknainya. Berikut ini contoh gambaran tentang memaknai sopan dan santun.

       I.    Dikisahkan, dua orang pegawai, sebut saja si A dan si B, yang bekerja di sebuah instansi, sebut saja Departemen XYZ. Si A dikenal sebagai pegawai yang tidak pernah terlambat masuk kantor, tidak pernah membolos, ijin pun sangat jarang. Si A ini selalu bersikap manis terhadap atasan dan setiap kali mendapat tugas dari atasannya, si A ini selalu bilang, “Siap laksanakan, Pak/Bu!”. Akan tetapi, tugas-tugas yang diberikan atasannya itu sering terlambat diselesaikan, bahkan sesekali malah tidak selesai sama sekali dan akhirnya harus dilimpahkan ke pegawai lain. Sedangkan si B, pegawai yang satunya lagi, setiap bulan selalu punya catatan tidak masuk kantor, entah itu dengan disertai surat ijin maupun tanpa keterangan sama sekali alias membolos. Atasan si B menganggap si B sebagai pegawai yang kurang tata krama karena atasan si B ini merasa sikap si B sama, baik dengan atasan maupun yang bukan atasannya (intinya atasan si B ini merasa si B ini tidak punya rasa hormat dengan atasan). Namun demikian, si B ini selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan atasannya dengan hasil yang memuaskan dan tepat waktu, bahkan sesekali lebih cepat dari yang ditentukan. Oleh karena itu, atasannya tidak mempertimbangkan untuk memecat si B walaupun si B sering tidak masuk kerja dan dianggap tidak tahu tata krama. *tamat*


      II.    Di suatu pagi yang cerah ceria, Master Shifu bercerita tentang sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia kepada dua muridnya, si Tong dan si Pang. Entah karena salah ucap, sudah pikun atau memang gagal paham, pada tengah cerita, Master Shifu berkata bahwa lagu kebangsaan Indonesia diciptakan oleh WS Rendra. Nah, kebetulan kedua muridnya itu tahu bahwa pencipta lagu Indonesia Raya adalah WR Supratman. Si Tong, walaupun tahu kalau gurunya salah ngomong, dia tidak berani membetulkan, dan dia pun cuma senyam-senyum sambil manggut-manggut ngga ikhlas. Sedangkan si Pang langsung bereaksi spontan untuk membetulkan perkataan gurunya dengan berkata kepada gurunya, “pengarang lagu kebangsaan Indonesia itu bukan WS Rendra, tapi WR Supratman, guru... masa gitu aja salah sih...  nenek-nenek sampoan juga tau kaleee...guoblok!”. *tidak bersambung* (singkat cerita, si Pang masih menjadi murid Master Shifu dalam dunia nyata, namun dalam dunia maya, si Pang sudah di-remove oleh Master Shifu dari pertemanan fesbuk).


Dua cerita super pendek di atas hanyalah contoh semata, jika ada kemiripan tokoh maupun jalan cerita, itu hanyalah kebenaran belaka... hehehe...

Si A (cerita I) dan si Tong (cerita II) merupakan contoh gambaran perilaku yang SOPAN tetapi TIDAK SANTUN. Sedangkan si B (cerita I) dan si Pang (cerita II) merupakan kebalikannya yaitu contoh perilaku yang SANTUN tetapi TIDAK SOPAN.
Nah, termasuk tipe yang manakah Anda? Apakah tipe yang sopan namun tidak santun, atau tipe yang santun namun tidak sopan? mmmh... atau malah tipe yang tidak sopan dan tidak santun? hehehe... hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Semoga Anda sekalian termasuk tipe orang yang sopan dan santun.

Ruwet ya, padahal hanya membahas 3 kata saja: bahasa, sopan, dan santun. Apalagi mau belajar berbahasa Indonesia yang baik dan benar? ngga kebayang repotnya. Belajar aja capek, apalagi mau menjunjung tinggi bahasa Indonesia? apalagi berbangsa dan bertumpah darah Indonesia?? jauuuuuuuuh deh ya ... di awang-awang gitu...
Bagi yang udah mengucap Sumpah Pemuda, ingat lho, sumpah itu janji, dan kata pepatah kuno “janji adalah hutang”. Cepet-cepet dilunasin deh yaaa... cemungudh eaa cemuwanyaaa :D



*****

Apa yang Anda pelajari dari artikel ini?
Apa yang Anda dapatkan dari artikel ini?



Rahayu Fitri Purnama Sari
@LadySute
suheng.tumblr.com

Kamis, 16 Februari 2012

KEBENARAN YANG DIBENAR-BENAR-KAN

Pada suatu ketika sewaktu audit atas laporan keuangan tengah berlangsung, terjadilah sebuah dialog singkat antara seorang auditor dan auditee (subjek yang diaudit). Begini ilustrasinya:

 
Hehehe... mungkin setelah mendengar ilustrasi di atas, bagi yang familiar dengan istilah dalam dunia per-auditing-an akan sedikit/lumayan/banyak/sekedar pura2 nyengir. Bagi yang ngga/belum familiar dengan auditing, dengarkan saja gambar dan tulisannya yah... :) . Konyol memang kalau dirasa-rasa, masa’ ya iya ada auditee ngomong begitu ke auditor...but, percaya ngga percaya, ilustrasi di atas based on the true story.
Walaupun ilustrasinya bercerita tentang kejadian saat audit, namun kali ini saya ngga akan membahas tentang auditing.

“Mmmmhh... so, kalau sekarang lagi ngga ngomongin auditing, trus ngomongin apa dong??”

Dear all, ilustrasi dan tulisan saya kali ini asal muasalnya karena teringat oleh jawaban sang auditee waktu itu. Pada saat pertama saya mendengar kalimat itu dari auditee, saya tak pikir serius dan menganggapnya sebagai bahan candaan belaka. Eh tenyata sodara-sodara sekalian, baru-baru ini saya menyadari bahwa kalimat itu adalah kalimat sakti. Coba perhatikan, dengarkan secara perlahan dan seksama kalimat sang auditee yang satu ini --> “YA, MAKLUMLAH BU, MANUSIA TEMPAT SALAH DAN LUPA, KESEMPURNAAN HANYA MILIK ALLAH SEMATA”.

Yak, sudah tau di mana letak kesaktian kalimat tersebut?
Ngga ada yang salah dengan kalimat itu, ya karena memang kalimat itu adalah sebuah KEBENARAN. “Manusia adalah tempat salah dan lupa”... saya rasa semua manusia di dunia ini setuju bahwa ngga ada seorang pun manusia di muka bumi ini yang ngga pernah berbuat kesalahan dan ngga pernah lupa. Kemudian “Kesempurnaan hanya milik Allah semata” ... saya rasa mayoritas manusia juga setuju.
Mmmmh... kalo ada yg ngga setuju, pura2 setuju dulu aja ya... hehehe..

Lagi-lagi... letak kesaktiannya itu di mana?

Di manaaa... dimanaaa... di manaaaaa...*nyanyik
Gini... gini...
Kalimat itu akan menjadi sakti omasguna kalau dipakai untuk memBENARkan KEBENARAN lain yang ingin DIHINDARI, yang akhirnya jadilah sebuah PEMBENARAN. Contohnya gini:
Atasan saya memberikan tugas kepada saya. Saya mengerjakan tugas itu ala kadarnya, yang penting asal jadi, asal selesai. Setelah tugas itu disampaikan ke atasan saya lagi  ternyata banyak salah di sana sini. Atasan saya marah marah ke saya. Saya membela diri biar ngga terlalu malu (padahal udah malu-maluin banget) dengan berkata, “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan hanya milik Allah semata”.
Dari contoh yang barusan, KEBENARANnya adalah “Saya malas, ngga serius, asal-asalan dan ngga mau kelamaan capek” kemudian diBENARkan dengan pernyataan “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan hanya milik Allah semata.” kemudian jadilah sebuah PEMBENARAN --> “yah, wajar lah khilaf-khilaf dikit, namanya juga manusia, bukan Tuhan” --> perasaan saya menjadi rada mendingan walaupun masih tersisa galau, galau yg kadang ilang kadang muncul lagi di lain waktu.

Itu salah satu contohnya yang terjadi pada saya... Saya merasa yakin agan dan aganwati sekalian punya contoh ataupun pengalaman yang lebih kreatif lagi... hehehe...

By the way, seberapa sering PEMBENARAN-PEMBENARAN yang bro&sist sekalian buat dalam kehidupan dan tidak pernah diSADARi?

PEMBENARAN itu... membuat orang yang melakukannya menjadi merasa “nyaman” walaupun itu “semu” dan “sementara”. Penyakitnya sendiri (baca: kebenaran yang dihindari) sama sekali ngga pernah sembuh. Kalau suatu saat muncul lagi rasa sakitnya, maka dibuatlah pembenaran yang lainnya. Begitu seterusnya hingga suatu ketika jiwa orang yang melakukannya akan menjadi kering dan mati, ngga tau lagi mana yang benar mana yang salah. Kalo kata pepatah --> punya mata tapi ngga melihat, punya telinga tapi ngga denger. Ya...  gitu deeeh...
Nah, begitulah pemirsa sekalian kesaktian dari sebuah PEMBENARAN menurut sepengetahuan saya yang sok tau ini (ini pembenaran juga :p)... hehehe...

“Apa yang membuatmu melakukan PEMBENARAN?”

Menurut pengalaman yang sudah-sudah dan yang masih berlangsung hingga detik ini... biasanya PEMBENARAN itu dilakukan karena si pelaku: ngga mau TANGGUNG JAWAB, ngga mau susah, pengen enaknya aja atau ngga mau ngakuin kenyataan bahwa dirinya itu salah.


“Gimana dong biar ngga terus-terusan idup dalam PEMBENARAN?”

Mmmmh... yakin neh, mau melepaskan diri dari PEMBENARAN? ngga enak & menyakitkan banget lho prosesnya itu... sumpah ASLI menderita banget... Mending jangan deh...

Tapi terserah siih, kalau cuman ngasih tau aja saya  mah oke oke aja...
Coba deh, mulai belajar membedakan mana PIKIRAN mana PERASAAN, mulai sadari KATA-KATA yang melintas dalam PIKIRAN dan PERASAAN, lihat diri APA ADANYA, terima diri APA ADANYA, dan ambil TANGGUNG JAWAB --> ini saya nasehatin diri sendiri lho yaaa... kalo sampeyan pengen ikutan nyobain ya monggo monggo aja... sekali lagi mendingan jangan...
hehehe...

hhh... capek nih...
Sekian aja dulu deh...
Jikalau ada yang perlu didiskusikan lebih lanjut silakan berkunjung ke fanpage ASLI (Aliansi Sadar Linguistik Indonesia) --> ASLI fanpage

Mohon maaf bila ada kesalahan redaksi atau apapun itu karena “Manusia tempat salah dan lupa, Kesempurnaan hanya milik Allah semata”

Salam Galau ^_^
 
SUTE Blogger Template by Ipietoon Blogger Template