Minggu, 30 Januari 2011

*pura pura hidup

ketika baru saja datang ke dunia...
bangun tidur... nangis...digendong... nangis... ma’em... nangis... digendong... bobo’... ngompol... nangis lagi... ganti popok.. digendong lagi... bobo’ lagi... dan seterusnya....

rada gedean dikit... jadi balita...
bangun tidur kuterus mandi...*lebih tepat dimandiin....tidak lupa menggosok gigi... dipakein baju... ma’em... maen... bobo’... bangun... ma’em... bobo’ lagi....dst....

waktu udah sekolah...
bangun tidur... mandi... sarapan... sekolah... pulang... makan... bobo’... bangun lagi... mandi... maen... ngerjain pe er *kalo g males... maem... bobo’ lagi... dst....

waktu di sekolah tinggi... *semacam kuliah gitu...
bangun tidur... mandi... ke kampus... *demi menghindari Drop Out... dengerin dosen sambil merem...pulang... makan... tidur siang...bangun lagee... ke kampus lageee...balik kampus... mandi... kongkow2 ga jelas... makan lageee.... ngrumpi di kosan mpe lewat tengah malem *ngalong... dan kemudian bobo lageee... dst ampe lulus... *accidental event = belajar buat ujian dengan SKS <sistim kebut semalem...kadang2 se-jam>

ketika udah kerja...
bangun tidur... mandi... ke kantor... presensi *demi remunerasi... sarapan... ngadepin laptop.. istirahat siang... makan siang... ngadepin laptop lageee... jam 5 sore... presensi lageee... pulang kantor... makan... mandi... baca buku... bobo.... dst. selama senen-jumat... *acara weekend = kluyuran mpe malem...

sekarang...
di depan laptop... mencoba mengingat-ingat apa yang sudah diperbuat selama *hidup* dan mencoba menuliskannya...
bertanya pada diri sendiri... “seperti itukah *hidup* itu?”
“benarkah aku sedang *hidup*?... atau mungkin hanya sekedar *berpura-pura hidup*?”
“seonggok daging dan tulang yang bergerak-gerak di sepanjang hari dan bergulung di atas kasur sepanjang malam”
“oh... mungkin itulah *mati* yang sesungguhnya”
aku tak tahu...
takut mati... *ah kurasa bukan...
takut hidup... *mungkin itu lebih tepat...
tapi... bukankah sudah kepalang basah berada di dunia ini? jadi, takut pun tak ada gunanya...
lagian aku sudah bosan dengan status *pura-pura hidup*...
sudah saatnya berganti status *belajar hidup*... mungkin nanti aku dapati apa *hidup* itu...
demi masa... demi masa...
bodohnya aku...
Tuhan... ampunilah makhlukmu yang bodoh ini...
Gute Nacht... *have a nice dream
J

Sabtu, 15 Januari 2011

K.P.U for Audit

sebuah perubahan dalam perjalanan menjemput impian yang terserak


Tulisan sederhana ini saya persembahkan untuk saudara-saudara setanah air yang senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik...

Akhir dari surat tugas audit belanja daerah...
namun audit itu sendiri masih belum menemukan ujung perjalanannya...
Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengalaman audit terakhir saya di tahun 2010.
November 2010, keluarlah surat tugas yang tak diinginkan pada mulanya. Entah mengapa saat itu saya yang masih terbilang sangat junior ini sudah merasa jenuh dengan audit. Mmm... mungkin lebih tepatnya jenuh akibat kecewa dengan keadaan. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai perasaan jenuh saya itu karena perasaan saya saat ini sudah berubah 180 derajat  J

24 November 2010
dimulailah Audit Belanja Daerah..
hari pertama saya lewatkan dengan membuat surat permintaan dokumen kepada auditee tercinta dan permintaan ijin kepada yang terhormat Ketua Tim untuk tidak masuk kerja 3 hari ke depan. Weleh.. weleeeeh... baru aja mulai koq udah ijin...memang dasar auditor bandel... hehehe. Permintaan ijin saya itu bukan tanpa maksud dan tujuan tertentu. Dalam 3 hari itu saya hendak mengikuti semacam pelatihan NLP yang bernama Dynamic Coaching, berharap dapat menemukan sebuah “pencerahan”. Alhamdulillah, dari training 3 hari tersebut saya mendapatkan “luka dalam” a.k.a “pencerahan” dan bekal yang dapat saya terapkan dalam kehidupan saya selanjutnya.

K.P.U
Apa itu K.P.U? K.P.U adalah sekumpulan huruf... hehehe. Dalam hal ini, K.P.U merupakan kepanjangan dari Keinginan Persiapan Usaha.

Keinginan
            Aku ingin begini... aku ingin begitu.. ingin ini ingin itu banyak sekali...
Ya, saking banyaknya keinginan, terkadang sebagian dari kita tidak punya gambaran yang jelas tentang apa yang diinginkan.  Ibarat bepergian tapi tak tahu arah mana yang dituju. Selain perlu gambaran yang jelas, keinginan juga perlu diperinci. Berhubung judul tulisan kali ini menyangkut tentang audit, maka saya mengambil contoh pengalaman audit saya yang terakhir di tahun 2010.
            Pada waktu itu saya memiliki keinginan sebagai berikut.
  •        Kertas Kerja Pemeriksaan lengkap, rapi, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan
  •     Temuan atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan: dapat dipertanggungjawabkan serta didukung bukti yang cukup dan kuat (waktu itu saya menargetkan temuan sebesar 1 milyar, bergantung pada fakta yang akan ditemui nantinya)
  •      Temuan atas Sistem Pengendalian Intern (SPI): dap at membawa perubahan ke arah yang lebih baik
  •      Kemampuan saya atas pengadaan barang/jasa meningkat: memahami proses dan prosedur pengadaan barang/jasa dan bagaimana penyelesaian kasus di lapangan

Persiapan

            Setelah merumuskan keinginan secara jelas dan terperinci, maka yang di-BUTUH-kan adalah adanya persiapan untuk menyambut terwujudnya keinginan tersebut. Mengapa BUTUH? kok bukan HARUS/WAJIB ada persiapan? hayooo... kenapa hayooo... Kata salah seorang pengajar NLP saya, kata HARUS/WAJIB itu dapat digunakan untuk menghindar (bahasa gaulnya: nge-les) dari risiko dan tanggung jawab atas kehidupannya ketika tidak berhasil menggapai apa-apa yang diinginkannya.
            Saya telah membuktikan perbedaan efek dari penggunaan kata BUTUH dengan kata HARUS/WAJIB terhadap perasaan saya. Cara membuktikannya seperti ini: katakan dalam hati “Saya HARUS.... “ (isi sendiri titik-titik nya ya) kemudian perhatikan perasaan seperti apa yang muncul. Setelah itu katakan dalam hati, “Saya BUTUH...” dan rasakan kembali. Kemudian bandingkan kedua perasaan tadi.
Menurut pengalaman saya, perasaan yang muncul ketika saya memakai kata HARUS adalah adanya semacam dorongan (semangat) untuk maju namun juga ada semacam “rem” yang kuat sehingga seolah-olah menghambat dorongan tersebut. Sedangkan ketika saya memakai kata “BUTUH”, perasaan yang muncul adalah suatu dorongan yang kuat untuk maju tanpa ada sesuatu yang mengahambat. Nah, bagaimana dengan Anda? setiap orang mungkin merasakan  sensasi yang berbeda...
            Next... persiapan yang saya butuhkan untuk mencapai keinginan saya antara lain seperti berikut.
*       baca &pahami Program Pemeriksaan
*       dapatkan dokumen awal untuk dasar melakukan sampling
*       lakukan sampling, tentukan sample kegiatan
*       dapatkan dokumen sesuai dengan sample (dokumen perencanaan s.d pembayaran)
*       dapatkan kriteria/peraturan yang terkait (sesuai kasus yang ditemui)
*       latih VAK untuk meningkatkan kepekaan saat memeriksa dokumen dan saat wawancara dengan auditee atau rekanan
*       buat dan arsipkan KKP
*       susun temuan
*       jaga independensi, integritas & profesionalisme
Persiapan tersebut di atas merupakan persiapan secara global yang diperlukan dari awal s.d. akhir audit sehingga untuk mencapai hasil yang efektif perlu dibreak down lagi menjadi persiapan harian. Buatlah rancangan persiapan yang detil sesuai dengan kebutuhan Anda.  
Saya merancang persiapan harian setiap malam untuk dilakukan pada keesokan harinya. Point-point nya antara lain:
Target apa yang ingin saya capai besok?
Apa saja yang saya butuhkan besok?
Bagaimana cara saya mendapatkan apa yang saya butuhkan sehingga target saya tercapai?
Satu hal lagi, ketika merancang persiapan harian, saya juga melakukan Test Operate Test Exit (TOTE). TOTE merupakan metode yang dikembangkan oleh G Miller. Konsepnya adalah saya perlu melakukan Test apakah cara yang telah saya lakukan efektif dan sesuai dengan target yang saya inginkan. Apabila belum, maka saya perlu menggantinya dengan cara yang lain (Operate) kemudian melakukan Test kembali sampai target saya tercapai (Exit).

Usaha
            Untuk mewujudkan apa yang diPERSIAPKAN, diBUTUHkan suatu USAHA. Masih ingat konsep BUTUH/PERLU dan konsep HARUS/WAJIB kan? Yah, apapun yang saya inginkan tak akan terwujud tanpa adanya usaha. Ibarat ingin kenyang tapi ngga’ mau ngunyah & nelen makanan. hehehe...
            Kata salah seorang pengajar NLP saya, “kalau ingin sukses, ingatlah filosofi belah duren”. Belah duren yang satu ini bukan belah duren versi lagunya Julia Perez lho ya.... hehehe lagi..
Ketika Anda ingin menikmati buah durian, tentunya Anda perlu membelah dan membuka kulit berdurinya terlebih dahulu bukan? Nah.. saat Anda membuka kulit durian tersebut tentunya jari-jari tangan Anda merasakan tusukan duri tersebut hingga akhirnya Anda berhasil membukanya dan menikmati buah durian tersebut. Begitu pula hidup... terkadang sebagian orang hanya ingin merasakan nikmatnya saja tanpa mau menerima rasa sakitnya terlebih dahulu. Bukan berarti untuk mencapai sebuah kesuksesan itu selalu dilalui dengan rasa sakit lho ya,,,
Dalam mencapai kesuksesan tentunya ada hambatan dan tantangan yang perlu dihadapi dan dilewati bukan untuk dihindari...

Sahabat-sahabatku sekalian... Apakah KEINGINAN saya tersebut di atas dapat saya capai. Jawabnya adalah lebih dari yang saya bayangkan sebelumnya..
So, selamat mempraktekkan!

Berpikirlah sebesar mungkin!
...Gantungkan cita-cita setinggi langit!
Mulailah dari diri sendiri!
Mulailah dari apa yang ada!
Mulailah sekarang juga!
Salam Perubahan..
 
SUTE Blogger Template by Ipietoon Blogger Template